Pariwisata Indonesia Dalam Menghadapi Pariwisata 4.0 :
Tantangan & Peluangnya
(Studi Kasus : Perwujudan Industri Pariwisata 4.0 di
Kota Lhokseumawe)
Revolusi industri 4.0 merupakan perubahan fundamental di bidang industri yang telah memasuki era baru. Gelombang keempat dari perjalanan dan perkembangan revolusi industri. Sebab itulah disebut dengan revolusi industri 4.0. Secara sederhana, revolusi industri 4.0 dapat dipahami sebagai perkembangan teknologi pabrik yang mengarah pada otomasi dan pertukaran data terkini secara mudah dan cepat yang mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala (internet of things), komputasi awan (cloud computing), dan komputasi kognitif. Otomasi sendiri merupakan sebuah teknik penggunaan mesin yang disertai dengan teknologi dan sistem kontrol guna mengoptimalkan produksi dan pengiriman barang serta jasa. Istilah revolusi industri 4.0 pertama kali dicetuskan oleh Jerman melalui proyek strategis teknologi. Revolusi industry 4.0 merupakan kelanjutan dari revolusi industry sebelumnya, mulai dari revolusi pertama yang menemukan mesin uap dan kereta api (1750 – 1830), kemudian kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia dan minyak (1870 – 1900), dan ketiga, penemuan computer, internet, dan telepon genggam sampai pada teknologi digital dan informasi (1970-an hingga sekarang). Transformasi digital inilah yang merubah keseluruhan siklus ekosistim kepariwisataan ,yang termasuk menjadi penyebab bergesernya budaya siber dan visual pada wisatawan.
Membahas
tentang komponen utama dalam pariwisata, biasanya dikenal dengan istilah “4A”
yang harus dimiliki oleh sebuah daya tarik wisata, yaitu: attraction (Merupakan komponen yang signifikan dimana didalamnya
terdapat keunikan tersendiri dimana akan menarik wisatawan berkunjung ke suatu
daya tarik wisata tersebut. Dalam pariwisata 4.0, Virtual Reality atau realitas
maya sangat memiliki peran yang besar. Trend yang terlihat bahwa, wisatawan
mulai memperlihatkan minat yang besar terhadap teknologi ini, seiring dengan
tampat-tempat wisata yang mulai menggunakan teknologi ini sebagai atraksi
wisata buatan pengganti atraksi pada realitas nyata.), accessibility (kemudahan untuk bergerak dari daerah yang satu ke
daerah yang lain. Pada era 4.0 ini, aksesbilitas wisatawan telah berkembang
kearah digital, contohnya adalah teknologi IoT. Dengan adanya teknologi IoT
(Internet of Things) penyedia jasa pariwisata dapat dengan mudah memasuki pasar
luar negeri dan menjangkau lebih banyak pelanggan, serta sebaliknya pelanggan
dapat dengan mudah menjangkau para penyedia jasa pariwisata tersebut.), amenities (segala macam sarana dan
prasarana yang diperlukan oleh wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata.
Fasilitas dalam dunia pariwisata kini telah berkembang pesat terutama di era
4.0. Terdapat teknologi Augmented Reality yang memungkinkan wisatawan melakukan
aktivitas seperti memesan hotel, mengakses informasi saat berada di destinasi,
menavigasi ke dan di sekitar destinasi, menterjemahkan tulisan atau rambu-rambu
serta percakapan, menemukan alternatif pilihan tempat makan dan hiburan semua
dapat dilakukan hanya melalui aplikasi pada perangkat seluler atau smartphone.),
dan ancilliary (Pelayanan tambahan
sudah harus disedikan oleh Pemerintah daerah dari suatu daerah tujuan wisata
baik untuk wisatawan maupun untuk pelaku pariwisata seperti : pemasaran,
pembangunan fisik (jalan raya, rel kereta, air minum, listrik, telepon, dan
lain-lain),maupun yang lainnya. Di era 4.0, kini pelayanan telah berkembang
pesat menuju teknologi yang lebih canggih. pelayanan kini tidak hanya terpaku
pada tenaga manusia, tetapi juga berkembang menjadi pelayanan oleh robot buatan
manusia. Artificial Intelligent (AI) dan Robots adalah teknologi yang mulai
popular dalam sektor pariwisata, khususnya pada sub sektor hotel dan restoran.)
Istilah Pariwisata digital memang sudah mulai berkembang pesat di beberapa negara termasuk Indonesia. Dimana pariwisata digital memiliki arti pemanfaatan digital ( Internet) pada industri pariwisata yang mencakup pengelolaan dan pemasaran. Pariwisata digital juga dapat di simpulkan memanfaatkan fasilitas sarana internet dengan berbagai media yang dekat dengan masyarakat seperti jejaring sosial ( Facebook, instagram, tumblr, twiter, blog, micro blog, website dan email ). Pemanfaatan digital tourism tidak terlepas dari paradigma baru dalam industri pariwisata yakni konsep Pariwisata 4.0 dengan target utama wisatawan milenial. Ciri utama strategi ini adalah terbangunnya ekosistem digital sehingga mampu mendongkrak produktivitas industri pariwisata secara drastis.
Kota Lhokseumawe memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata. Namun potensi pariwisata tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan pengelolaannya oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe. Hingga tahun 2020, belum tampak upaya serius yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam menerapkan konsep digital tourism. Padahal media digital memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi perkembangan promosi pariwisata. Tantangan yang di hadapi antara lain : masalah komunikasi, sumber daya, anggaran, fasilitas, serta informasi dan kewenangan. Namun, apabila Kota Lhokseumawe menjalankan pariwisata berbasis digital dengan optimal tentu banyak peluang yang didapat seperti :
-Semakin mudahnya mengakses informasi
tentang suatu destinasi dan hal itupun mampu mengembangkan suatu destinasi
wisata sehingga dapat berepngaruh positif terhadap perekonomian masyarakat sekitarnya.
-Dengan adanya teknologi, konsumen dapat
dengan mudah mencari informasi dan feeding mengenai produk – produk wisata dan
destinasi di Kota Lhokseumawe dengan detail.
-Selain itu, dalam mempromosikan sesuatu
secara digital bisa dilakukan micro targeting, sehingga promosi bisa tepat
sasaran.
0 komentar:
Posting Komentar